Selamat ulang tahun bocah tanggung. Sekarang anda berumur 21 tahun. Cukup berumur, bisa dibilang dewasa, kalau tidak ada yang complain. Meskipun anda mungkin masih ingin berakting seperti anak umur 12 tahun yang masih menyusun puzzle dan bermain petak umpet, tapi tak bisa dihindari, selamat datang di kehidupan ’pria 20-an’ pada umumnya! Anda boleh membuka botol anggur anda, bila anda suka tentunya, dan bersulang sendirian di kamar. Sayang tidak ada siapa-siapa sekarang. Untuk menghilangkan rasa kesepian anda, silahkan anda kunjungi dunia maya dan lihat betapa banyak orang yang mengucapkan selamat karena anda masih hidup sampai saat ini. Saya pun akan melakukan hal yang sama. Lihat betapa mereka menyayangi anda. Dan saya tahu anda pun sangat menyayangi mereka. Anda memiliki keluarga yang (tentunya) juga mencintai anda, yang mencium anda saat mereka melihat anaknya keluar dari kamar di hari yang berbahagia ini. Atau kekasih yang selalu setia menemani anda dan rela tetap terbangun hingga larut malam untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada anda. Plus teman-teman anda (saya melihat beberapa dari mereka tampak aneh dan memiliki ikatan khusus dengan anda) yang juga ingin berbagi kebahagiaan. Saya mengerti anda bingung bagaimana membalas mereka. Satu slice pizza isi daging untuk masing-masing teman anda tentunya menguras isi tabungan anda. Dan membalas setiap pesan mereka saya pikir sesuatu yang cukup masuk akal. Namun saya berharap anda dapat mentraktir mereka secara kecil-kecilan, dan sekali lagi, bila anda punya tabungan rahasia untuk melakukan hal tersebut. Bila tidak, semangkuk mi instan plus telur rebus dan the hangat mungkin bisa menjadi alternatif. Lalu? Bagaimana dengan saya? Apa yang akan anda lakukan terhadap saya? Mungkinkah anda membiarkan saya tetap seperti ini? No improvement? Saya tahu anda memikirkan hal ini kemarin malam saat anda masih genap berusia 20 tahun. Sebagai orang yang paling mengerti tentang anda, pasti anda sangat berharap menginginkan perubahan positif di antara kita. Menuju langkah selanjutnya. Bukan, bukan itu, saya tidak mendukung pernikahan sesama jenis. Saya pikir anda dapat menjadi sosok yang lebih bijak, lebih dewasa, mampu mengontrol diri sendiri, dan mengubah sikap egois anda. Sejujurnya saya bosan mendengar keluhan anda dalam menyikapi hidup. C’mon, Tuhan telah menentukan takdir anda, dan anda harus menjalaninya dengan sungguh-sungguh. Apa anda masih ingin menjadi pria lembek yang selalu pesimis terhadap diri sendiri? Apa anda masih punya rasa takut untuk mencoba sesuatu yang baru? Apa anda masih menganggap anda sebagai anak kelas 2 SMA yang sering tertidur ketika membaca textbook sebanyak 200 lembar lebih? Apa anda masih bingung dengan grammar hidup anda sendiri? Tentu tidak! Saya mengenal anda selama 21 tahun. Dan sangat mengerti seluk beluk anda. Anda ingin maju. Tapi belum tahu harus mulai darimana. Saran saya, mulailah berkreasi. Saya akan membantu anda untuk tidak mundur di tengah jalan. Belajarlah dari lingkungan anda. Saya tidak mengerti kenapa saya se-begitu perhatiannya kepada anda. Dan anda sering bilang kepada saya, bahwa anda tidak suka memperdulikan diri sendiri. Anda lebih suka memperhatikan orang-orang di sekitar anda, dan mencoba membantu mereka sebisa mungkin. Niat yang bagus. Tapi tidak cukup baik untuk anda. Bila anda menyayangi mereka, cobalah menyayangi diri anda sendiri. Ubahlah diri anda dari dalam. Kebetulan temanya sedang cocok, pertambahan usia. Kenapa tidak anda memulainya dari sekarang? Saya yakin orang-orang di sekitar anda juga merasa terbantu oleh hal itu. Tapi ingat, jangan merubah karakter asli anda. Atau anda akan dikenal sebagai orang lain.
Saya sadar bahwa saya harus membantu anda melakukan hal ini. Tidak mudah memang. Tapi kita harus yakin bahwa kita bisa. Untuk menjadi sosok yang lebih baik, dibutuhkan niat serta pola yang benar. Saya bukan berbicara mengenai tips pelangsingan tubuh, saya bukan Victoria Beckham, saya berbicara mengenai kebaikan anda secara personal. Kenapa? Anda kaget ketika tahu bahwa ucapan selamat ulang tahun dari saya sangat formal seperti ini? Bahwa ucapan ulang tahun dari saya lebih mirip kalimat-kalimat kampanye politik? Jangan memasang wajah seperti itu, anda sudah jelek sebelum lipatan-lipatan kekesalan itu muncul di dahi anda. Bahkan Russel Crowe terlihat jelek ketika dia cemberut. Saya mengerti anda tidak suka formalitas seperti ini. Nah, dari sinilah anda dapat mengerti bahwa sifat kekanak-kanakan anda masih tersangkut di dalam diri anda. Saya tidak melarang. Hanya, belajarlah. Bukan dari buku-buku bahasa inggris yang bahkan sampai sekarang saya tidak mengerti kenapa anda dipaksa menghafal isinya, tapi dari kehidupan anda sendiri. Belajarlah dari sesuatu yang baru. Sesuatu yang tidak anda sadari. Yang mungkin dapat menjadi guru terbaik bagi anda.
Akhir kata, sekali lagi saya mengucapkan selamat ulang tahun untuk anda. Silahkan melanjutkan aktivitas anda selanjutnya.
Sampaikan salam saya kepada keluarga, kekasih, dan teman-teman anda. Bilang padanya saya sangat mencintai mereka.
"Semua hal yang dibuat secara tiba-tiba lebih berhasil daripada sesuatu yang dibuat lewat strukturisasi tetek bengek yang gak berujung"
Buat orang ekonomi mungkin kurang setuju ama statement diatas. Tapi buat gw, khususnya kami, kalimat tersebut sangat menggambarkan kondisi gw dan teman-teman gw yang penuh dengan kegoblokan dan kehancuran pola tindakan. Udah dua kali gw dan anak-anak nyusun jadwal kegiatan liburan, udah berapa kali rapat, malah gw udah sempet survey ke lokasi plus nyari informasi lewat internet. Nyusun anggaran akomodasi, konsumsi, transportasi, plus biaya hura-hura udah gw susun semua. Tapi selalu kandas di tengah jalan gara-gara masalah waktu yang gak pernah klop dan kata buras yang paling sering muncul ketika biaya yang dibutuhkan tergolong mahal. Akhirnya? Yaa gitu, gak jadi kemana-mana, bengong di rumah masing-masing. Meskipun kadang suka ada request dari anak-anak soal liburan, tapi gw udah pegel duluan ngurusnya. Jadinya gw suruh aja mereka yang ngurus teknisnya gimana. Dan, seperti biasa, gagal karena emang ngurusin ginian super ribet. Apalagi nyatuin jadwal liburan anak-anak yang semuanya kuliah di kampus yang berbeda itu bener-bener susah.
Tadinya gw sempet pesimis kalo kita bisa liburan bareng. Toh waktu liburan kita tinggal semingguan lagi. Dan gw udah gak ada ide lagi mau ngapain. Tapi tiba-tiba ada usul yang sangat menarik.
Awalnya, Kamis 22 Januari, gw dan temen kampus gw, Aji, mau benerin mobilnya di bengkel deket rumah gw. Sebelum ke bengkel, kita ngendok dulu di rumah, sambil iseng browsing internet. Terus mendadak Aji ngusulin buat nyoba arung jeram. Kebetulan kita berdua belum pernah nyoba, dan sangat tertarik buat maen olahraga air yang memacu adrenalin itu. Langsung aja gw cari data lewat internet. Dan langsung dapet. Sayangnya biaya cukup mahal, gw jadi pesimis kalo anak-anak yang laen mau join. Apalagi kalo mau booking, minimal peserta per paket itu 5 orang. Jadi mau gak mau harus cari 3 orang lagi (ya iyalah, gw juga ogah Cuma berduaan ama ni monyet!). Seperti biasa, gw nyebar jarkom lewat sms. Pertama-tama muncul balesan yang sudah sangat gw duga.
“Adduuhh, buraass! Gak ada duit!”
“Burason Karomatun dos Santos Aveiro”
Sambil ketawa cekikikan gw nunggu balesan yang laen. Gak lama temen gw yang lagi liburan di Bali, Getek (bukan nama sebenarnya, tapi nama aslinya gak beda jauh), mau ikutan asal anak-anak yang laen juga ikutan. Berikutnya gw kontak Dika, orang kasian yang sampe sekarang masih harus ber-UAS ria di kampusnya. Ternyata dia juga tertarik. Udah terkumpul empat ekor primata siap tempur. Tinggal satu ekor lagi yang harus dicari. Akhirnya ada juga, Dwipa, orang kasian kedua yang juga masih ber-UAS ria di kampusnya. Gw ama Aji akhirnya yakin kalo event ini bisa kesampean. Dan setelah negoisasi soal waktu keberangkatan yang (seperti biasa) cukup ribet. Kita nentuin tanggal 26 yang bertepatan dengan Imlek sebagai tanggal keberangkatan. Gw juga udah nelpon operator arung jeramnya buat reservasi. Dia bilang semua udah siap, tinggal di transfer aja pembayarannya. Dan gw (dengan sangat amat berat hati) transfer full semua biaya, jadi anak-anak tinggal bayar ke gw (tapi sampe tulisan ini gw tulis, itu utang belum lunas juga). Yo wis, kita tinggal prepare aja buat hari Senin.
Daripada banyak ngemeng mending ceritanya langsung gw skip ke hari minggu malem aja ya?
Minggu malem gw kirim sms ke anak-anak buat perlengkapan yang harus dibawa, sekalian konfirmasi ulang, gak lucu kan kalo tiba-tiba ada yang gak jadi ikut. Dari situsnya sih, kita disuruh bawa baju ganti, handuk, peralatan bilas, sunblock (gak ngaruh juga sih, kita semua udah terlanjur item), dan sunglass. Khusus buat sunglass, kita secara kebetulan baru aja beli sunglass RayBan Wayfarer dari Kaskus. Abal sih, tapi yang penting gaya dulu. Jadi gw mewajibkan anak-anak buat make RayBan Wayfarer sebagai dresscode perjalanan kali ini.
Senin subuh jam 5 gw bangun. Si Aji udah duluan nginep karena dia yang bawa mobil. Gw bangunin anak-anak yang laen karena takut pada kebablasan. Akhirnya jam 6 semua ngumpul di rumah gw. Dan langsung berangkat. Kita semua ditemenin Mas Dadang, dia yang pegang kemudi mobil Aji. Tujuan kita gak tanggung-tanggung jauhnya : Sungai Citarik, Sukabumi. Operatornya bilang waktu tempuh kesana sekitar 3 jam. Itupun kalo gak macet. Tapi Alhamdulillah kita gak kejebak macet sedikitpun. Jalan tol jagorawi lancar, pas exit tol Ciawi juga lancar.
Setelah mendaki gunung lewati lembah (apa sih), dan jalan yang berbelok-belok melewati kebun kelapa sawit dan kebun pohon entah apa itu (ada yang bilang itu pohon karet, ato pohon jati, tapi berhubung yang ngomong anak-anak sotoy, gw gak mau dengerin) kita sampai juga di tempatnya. Total 3 jam kurang kita tempuh dari Jakarta sampai Citarik.
Nama operator kita itu Arus Liar, yang juga jadi operator arung jeram pertama di sungai Citarik. Awalnya gw reservasi paket ‘Two Hours Rafting’, tapi anak-anak minta nambah jadi ‘Full Day Rafting’ yang finishnya di Pelabuhan Ratu. Trip ini makan waktu sekitar 4 jam, dahsyat!
Kita mengenakan peralatan rafting yang udah disiapkan oleh operator (agak bau sih, tapi it’s ok lah). Dengan dipandu dua orang guide, kita mulai menyelusuri sungai Citarik. Pertama-tama kita naik ke atas bukit dengan menggunakan truk. Jalannya cukup jauh dan berbatu. Gak lama kita sampai dan langsung nyemplung ke sungai. Satu jam pertama kita diajak ‘pemanasan’ dan mengenal arus-arus di sungai Citarik. Kemudian kita istirahat sejenak, dan kemudian melanjutkan 3 jam perjalanan berikutnya.
“Yang tadi itu masih memble, nah, abis ini baru arung jeram beneran, siap-siap aja ya Mas!”, kata salah satu guide kita.
Bener aja, sekarang arusnya lebih deras, banyak batu-batu gede yang bikin aliran air jadi makin gak ketebak. Perahu karet kita udah kekocok-kocok gak keruan. Udah gitu, kekonyolan makin klop karena Dwipa dan Aji gak bisa berenang! Tapi semua tetep aman karena kita pake pelampung kualitas internasional.
Ada spot dimana aliran airnya cukup tenang dan kita diperbolehkan berenang di air. Kita berlima langsung nyebur tanpa ragu-ragu. Gak taunya, gak jauh dari tempat kita turun ke air, aliran air jadi kencang, kita pun terseret arus. Dari kejauhan dua orang guide kita ketawa-ketiwi, layaknya melihat lima ekor orangutan yang jatuh ke sungai. Otomatis Aji dan Dwipa panik, gw gak bisa ketawa gara-gara udah nelen air sungai. Shit! gw lupa kalo orang sini juga ikut memanfaatkan air ini buat mandi, cuci piring, dan tentunyaa.. be’ol! Sedih gw kalo mikirin itu, tapi bodo amat lah. Tanggung!
Kita berlima akhirnya naik lagi ke atas perahu, sambil ngos-ngosan tentunya. Perjalanan pun dilanjutkan. Dan kita sampai di spot peristirahatan dan minum kelapa muda khas Sukabumi. Gile, enak banget! Seger!
Tenaga terisi, perut penuh nutrisi, ketek bau terasi. Kita kembali ke perahu. Dan kita menghadapi arus-arus yang makin gak tau diri. Klimaksnya, ketika ada arus besar di sebelah kanan, perahu karet pun miring, penderitaan gw makin komplit karena Dwipa dan Dika jatuh ke badan gw, akhirnya, gw pun terdorong dan jatuh ke sungai! Sialan. Untung di belakang gw batu, kalo tidak, udah keseret arus dan jadi makanan ikan. Semua orang di perahu ngetawain gw. Kampret.
Sepanjang perjalanan, kita menikmati pemandangan alam yang udah raib dari kota Jakarta. Hutan-hutan, tebing batu, hingga biawak air yang lagi berjemur di batu. Keren abis. Tapi pemandangannya gak melulu indah. Kadang kita juga papasan ama orang yang lagi ‘bertelur’ di pinggir sungai. Jongkok aja gitu gak pake malu. Atau bocah-bocah yang lagi maen di tengah sungai dan nyoba buat gangguin kita. Gw sempet bilang kalo gw itu Pasha Ungu, dan kayaknya mereka agak percaya sambil membalas lambaian tangan gw. Kasian..
Di pinggir sungai juga ada operator yang membawa kamera SLR untuk memotret aksi kita. Hasil fotonya keren-keren, tapi dari semua foto, gw yang keliatan paling narsis. Hehehe..
Berjam-jam kemudian, kita sampai di lokasi finish, tepatnya di Pelabuhan Ratu. Dari situ kita disewakan angkot (kalo di situsnya disebut ‘local transportation’ biar keren dikit) dan berangkat ke hotel Augusta untuk makan siang. Dalam perjalanan menuju hotel, kita melihat paparan pantai yang luas, plus ombak yang seakan memanggil kita buat nyemplung di laut. Walhasil, abis makan kita langsung maen di laut, kayak gak ada capek-capeknya aja. Pantai di depan hotel emang gak sebagus pantai di pinggir jalan yang memang masih sepi. Tapi bodo amat lah, kita tetep having fun. Apalagi ombak di Pelabuhan Ratu terkenal gede. Bukannya kita mau surfing, tapi mau ngerasain diterjang ombak yang kuat. Sok tau sih emang, dan akibatnya kacamata RayBan dwipa hilang keseret ombak. Untung abal ya Dwip? Hahahaha..
Puas maen di pantai, kita langsung pulang menuju Jakarta. Tapi jalan pulang super duper macet. Total 5 jam kita di jalan. Untung ada Mas Dadang yang sangat berbaik hati nyetirin kita dari awal sampe akhir. Bener-bener superhero. Dengan semua yang udah kita keluarin buat wisata dadakan kayak gini, kita sangat puas bisa hura-hura. Sayang semuanya gak bisa ikut. Kalo komplit pasti lebih seru. Yahh.. maybe next time, kalo ada yang punya villa gratis di pinggir pantai, why not?
Jam 12 siang gw punya rencana buat tidur siang. Maklum, gw ngantuk banget gara-gara begadang nonton Juve - Fiorentina tadi subuh. Dan gw itu orangnya paling gak bisa bangun siang, jadinya jam setengah 10 gw udah bangun. Walhasil ya begini, mata kayaknya berat banget, pas gw mau coba tidur tetep aja gak bisa. Ya udah, daripada gak ada kerjaan, gw online. Kebetulan si pacar lagi online juga, jadinya chatting deh. Do'i mau bikin blog, terus gw suruh aja bikin disini, biar sama kayak gw (gak ngaruh sih sebenernya). Gw iseng buka blog gw. Nampak tak ada yang menarik. Kecuali tanggalan di taskbar gw, ternyata sekarang udah tanggal 25, that means, seminggu lagi gw ultah!
Oh man, berarti minggu depan umur gw udah 21! Udah mulai tua! Sementara gw masih ngerasa kalo gw itu masih seorang Riza Arifki culun yang mau naikin berat badan ke angka 30 aja susah banget. Kalo gw liat di kaca, muka gw emang masih bocah begini (ehm, sori ya, awet muda nih), tapi kalo gw liat wujud adek-adek gw, mereka udah pada bangkot semua. Adek gw yang cowok udah kumisan, tinggi pula, bentar lagi kalah gw tingginya. Adek gw yang cewek udah gak ketulungan. Udah macam Godzilla ukurannya. Tadi pagi juga nyokap gw nunjukin foto gw waktu masih piyik, sekitar taon 2002-an lah. Gila, gw ceking abis, rambut belah dua ala Nick Carter, keliatan kasiannya deh. Terus gw juga gak sengaja nemu buku tahunan SMP Percik waktu gw masih kelas 1. Keadaannya makin kronis, dengan seragam SMP yang gombrang, celana yang agak kekecilan, gw ngeliat diri gw kayak Smurf yang pake seragam ukuran gede! Emang sih, kelas 2 SMP kebawah tuh badan gw masih kurus kecil. Untung dengan pola latihan fisik, badan gw jadi agak tinggi.
Kalo gw inget-inget keadaan gw dulu, terus gw compare ama yang sekarang mungkin kerasa aneh. Dulu gw putih, rambut lurus belah tengik, en pas belom mengenal sepakbola gw kayaknya agak tembem. Tapi kenapa sekarang rambut gw keriting, jadi item dekil, plus badan kerempeng dengan modifikasi perut (mem)buncit gara-gara kebanyakan makan. Malah pacar gw sendiri bilang, "sayaang, kamu kok kecilnya lucu begini sih? kenapa sekarang jadi begini?"
'Jadi begini?'
Ugh, emang agak menyakitkan hati sih dengernya. Hehehehe..
Tapi yahh, faktor lingkungan banyak berpengaruh. Riza kecil kan dari dulu udah norak, suka maen panas-panasan. Jadinya item deh. Gw masih inget gw pernah maen bola jam 12 teng pas banget matahari lagi ngelunjak-ngelunjaknya, tiga jam! Itu waktu lapangan komplek gw baru selesai dibuat. Emang natural kampung, ngeliat lapangan bagus, langsung pengen maen.
Yak, lupakan metamorfosis gw. Gw jadi pengen bernostalgia ama kehidupan masa kecil gw. Kehidupan yang sekarang mungkin aneh kalo gw lakuin. Kehidupan yang gak akan pernah gw lupain, dan sesuatu yang buat gw unik dan selalu bikin gw seneng waktu itu.
Banyak banget kenangan bahagia masa kecil gw. Meskipun gw termasuk bocah yang ansos. Tapi lingkungan gw itu sendiri lah yang jadi temen bermain gw. Gw dulu tinggal di Cempaka Putih, daerah yang punya hobi banjir. Nah, justru saat-saat banjir itu yang paling gw tunggu-tunggu. Disaat bokap nyokap gw sibuk nyelametin barang-barang di rumah, gw justru ngabrit ke garasi rumah yang udah kegenang air. Maen becek-becekan bareng adek gw. Sampe akhirnya dimarahin en gak boleh keluar rumah. Atau pas banjirnya udah surut. Gw suka nyari binatang-binatang aneh yang nyangsang di rumah gw. Suka ada kepiting, belut, ikan sepat, bekicot, banyak deh. Semuanya gw kumpulin di kolam. Dan (bodohnya) gak gw kasi makan. Jadinya pada mati semua. Parah banget deh. Atau bikin rumah-rumahan pake kasur lipet, seprei, dan bantal yang gw susun jadi berbentuk gubuk. Terus gw tidur siang di dalem situ.
Man, masa kecil emang moment yang seru. Makanya gw justru sangat menyayangkan keadaan bocah-bocah jaman sekarang yang kecepetan gede. Bocah SD udah pacaran lah. Udah nenteng BlackBerry lah. Gaul ke Mall rame-rame. Ngerokok, nyimeng, atau yang lebih kacau udah mengenal sex sebelum waktunya. Mereka gak bisa, atau mungkin males ngerasain masa kanak kanak pada umumnya. Efek sinetron kali ya? Mereka lebih mikir "Ah, pengen cepet-cepet gede gw!" atau sejenisnya lah. Sayang banget. Padahal negara kita tu termasuk negara yang bisa dibilang punya nilai budaya yang mengajarkan anak-anak untuk bertingkah selayaknya. Banyak banget permainan tradisional yang bisa dimaenin ama mereka. Atau juga para orangtua terinspirasi dari karier Baim si bocah berbakat, jadinya semua anak-anak mereka dicemplungin ke dunia entertainment? Gambling, tapi tidak masalah jika si anak menyanggupi. Mungkin semua baru akan kerasa pas mereka udah dewasa.
"Where's my childhood memories?"
Kan sayang. Apalagi masa kecil gak bisa diulang. Andai gw bisa sih, ayo deh! Jangan sampe ada pemikiran bahwa menjadi anak-anak tu sesuatu yang memalukan. Gw suka mikir skeptis ama orang-orang yang sok dewasa. Ini itu, ini itu. Terkadang suka ada sisi positif yang bisa diambil dari pola pikir anak-anak. Kejujuran, rasa ingin tau, atau kepolosan yang bisa ngebawa kita menjadi lebih baik. Semua terbentuk dari sana.
Tanggal 20 Januari kemarin Barack Hussein Obama telah dilantik menjadi presiden Amerika Serikat ke-44, yang dengan demikian telah membuat George W. Bush ”pulang kampung” ke Texas. Acara Inaugurasi yang diadakan di Capitol Hill itu setidaknya dihadiri oleh dua juta rakyat Amerika dari segala penjuru negara. Nominal yang sangat fantastis, mengingat Obama adalah orang Afro-Amerika pertama yang menjadi orang paling beken di negara perserikatan tersebut (saya tidak mampu membayangkan bila Chris Tucker mencalonkan diri menjadi presiden). Acara tersebut berlangsung sangat meriah dan menghabiskan dana yang cukup wah, ada yang bilang bahwa dana yang dibutuhkan hampir 1,5 kali lipat dari dana yang dikucurkan ketika Bush disumpah menjadi presiden. Selain itu, setiap detil acara ini disiarkan langsung ke seluruh dunia, tanpa terkecuali Indonesia. Seperti yang kita semua tahu (tapi mungkin mayoritas warga Amerika belum tahu) Obama pernah ”mampir” ke Indonesia pada tahun 1967, dan tinggal disini selama 3,5 tahun. Yah, bisa dibilang Obama menghabiskan sebagian masa kecilnya di Jakarta. Obama pindah ke Indonesia setelah ibunya, Ann Dunham bercerai dengan Barack Obama Sr., yang kemudian si ibu menikah lagi dengan orang Indonesia bernama Lolo Soetoro. Keduanya bertemu ketika sedang berkuliah di Hawaii. Dari perkawinan ini, Ann Dunham mempunyai seorang anak bernama Maya Soetoro, yang sekarang telah menikah dengan seorang pria keturunan Cina.
Di Jakarta, Obama kecil bersekolah di SD Franciscus Assisi dan SD Menteng 01. Di SD Menteng 01 inilah Obama berbaur dengan teman-teman Indonesianya. Mengenal seluk beluk kehidupan Djakarta tempoe doeloe, serta tumbuh menjadi anak yang (kata teman-temannya) sangat aktif. Obama pernah bilang bahwa dia dulu merupakan Jakarta’s Street Kid, anak jalanan. Mengejar ayam kampung, bermain bersama kerbau, menonton wayang kulit, tukar menukar cerita hantu, hingga jajan permen di kakilima pun sudah pernah dirasakan oleh pria bersuara bariton ini. Bisa dikatakan, Obama memiliki masa kecil yang indah, meskipun singkat, di Indonesia. Dalam pembicaraan via telepon dengan Presiden SBY, Obama mengungkapkan kerinduannya terhadap Indonesia, terutama kepada rambutan dan nasi goreng (?). Obama bahkan menulis 10 halaman essay mengenai kehidupannya di Indonesia dalam buku karanganya, The Audacity of Hope : Thoughts on Reclaiming The American Dream (di Indonesia diterbitkan dengan judul Menerjang Harapan : Dari Jakarta Menuju Gedung Putih). Dia menulis kisah masa lalunya di Jakarta, pengalamannya tinggal di Bali, serta isu-isu domestik yang terjadi kala itu pun tak luput dari perhatiannya. Obama juga mengungkapkan perhatiannya terhadap kasus bom Bali, ternyata, tempat tinggalnya dahulu dekat dengan lokasi kejadian ledakan bom tersebut.
Apakah semua itu dapat menunjukan bahwa Obama mempunyai perhatian lebih kepada Indonesia? Apakah semua itu yang membuat kita semua gembar gembor ketika ada berita ”Seorang Amerika yang pernah bersekolah di Indonesia terpilih menjadi presiden di negara paling berpengaruh di dunia”? Saya pikir, kita tidak seharusnya terlalu berharap banyak bahwa akan ada perubahan positif yang cukup signifikan yang berasal dari kebijakan luar negeri pemerintahan Obama. Sebagai presiden AS, tentunya Obama dituntut lebih concern terhadap kasus-kasus dalam negeri. Meskipun dia mengatakan juga akan menyelesaikan permasalahan internasional yang hingga kini belum juga selesai, seperti konflik Timur Tengah dan kepemilikan nuklir di beberapa negara, bukan berarti dia juga akan memberi perhatian khusus kepada negara tertentu. Bila mungkin Obama memang bertujuan baik demi negara lain, atau khususnya Indonesia, apakah mungkin petinggi-petinggi kongres lain berpikiran sama? Dalam susunan kabinet, tidak mungkin ada 150 orang Obama duduk dalam rapat. Semua tentu juga mempunyai visi sendiri. Saya yakin Obama pasti memiliki keinginan untuk membantu Indonesia, atau paling tidak mengunjungi Indonesia. Dan apabila suatu saat akan ada kesempatan baginya untuk mengunjungi Indonesia, tentunya akan jado moment yang spesial bagi negara kita, dan tentunya untuk Obama sendiri. Saya membaca harian Kompas pagi ini, ada artikel yang membahas tentang percakapan singkat antara Obama dengan salah satu anggota Departemen Luar Negeri AS, yang sering bertugas di Indonesia. Lucunya, percakapan singkat itu dilakukan dengan bahasa Indonesia!
”Selamat siang”.
Obama pun membalas dengan mantap, ”Terima kasih, apa kabar?”
”Baik-baik”.
Sambil tersenyum, Obama memuji orang tersebut dan mengatakan bahwa dia mempunyai aksen Indonesia yang sangat baik. Bukankah itu berarti Obama masih ingat bahasa Indonesia? Bisa jadi, karena sepeninggal Obama dari Indonesia, sang ibu membawa serta Maya Soetoro ke Amerika. Mungkin saja komunikasi mereka tetap lancar. Obama bahkan mengajak beberapa saudara-saudara dari Maya untuk ikut menghadiri acara inaugurasinya di Washington kemarin.
Saya secara pribadi juga berharap bahwa terpilihnya Obama dapat membawa efek positif bagi negara kita. Obama berjanji akan membuka ruang bagi negara-negara berkembang untuk berinteraksi dengan Amerika, dan juga akan membangun kembali citra baik AS di mata negara-negara muslim. Tentunya hal semacam ini lah yang dapat membangun perdamaian dunia, sebuah persatuan global yang telah lama diimpikan setiap orang. Kita sebagai warga negara yang baik tentunya harus ikut berpartisipasi, yaitu dengan cara menjaga ketentraman negara, baik secara eksternal maupun internal.
Yah, saya berdoa untuk kedamaian dunia. Semoga terpilihnya Obama dapat menjadi awal yang baik bagi semua.
Hanya seorang pria yang menghabiskan waktu senggang dengan duduk di depan laptop dan menulis hal-hal tidak penting yang menurutnya penting. Percayalah nak, sesuatu yang penting selalu berawal dari hal-hal yang tidak penting.